KU PILIH SAHABAT
Karya Agitya Safitri
Suara
burung bernyanyi menyambut senja pagi
yang sunyi. Dingin nya terasa menusuk sukmaku yang berdiri tegak di halaman
rumah di sebuah Desa yang penuh rerimbunan hijau yang menyimpan sejuta pesona
karenanya. Saat ini aku baru berusia 14
tahun aku pindah dan tinggal di Desa kecil yang ada di kota ini. Aku di sini
tidak sendirian ayah,ibu,Nenek serta Kakakku tinggal dalam satu atap rumah.
Dengan suasana yang hangat kami saling melengkapi satu sama lain. Semenjak usaha Ayahku ku bangkrut,
keluargaku mengalami kesulitan ekonomi .
Ayahku yang dulunya seorang pengusaha sukses kini hanyalah orang biasa yang
menghidupi keluarga nya dengan gaji yang pas-pas-an. Hari pertama aku pindah
sekolah Menengan Pertama SMPN HARAPAN JAYA. Dalam hati aku merasa deg
-degan. Rasa cemas yang menghantuiku
membalut pikiranku. “Tenanglah
nak semua pasti akan baik-baik saja ,jangan hawatir”. Sahut
Ibu untuk membuatku tenang sebelum memulai sekolah di sana. “Iya Bu”.
Jawabku. Beberapa selang waktu kemudian
aku bertanya .“ Kenapa ibu ingin sekali aku dan kakak pindah sekolah disini?”. Ibu hanya tersenyum.“ Tanyakan itu
pada Ayahmu”. Jawaban ibu membuatku
bingung, tapi ya sudahlah tak ku pikir panjang segera ku pergi ke kamar untuk
menyiapkan keperluanku yang akan ku bawa ke sekolah nanti.
Hari
Senin
adalah hari pertama aku masuk sekolah di gandeng
tangan kananku oleh kak
Nadia.
Suara sorak menyorak anak-anak di situ begitu asing bagiku. Dengan suasana yang baru aku mencoba untuk
tenang dan melanjutkan langkahku. “Kakak masuk kelas dulu ya!!”.Ujar kak Nadia.“Iya kak”. Jawabku sambil ku pandangi langkah
kak Nadia menuju ruang kelas nya. Bel
masuk berbunyi, segera ku bangkit dari tempat duduk yang ada di Halaman Sekolah
menuju ruang kelasku.Tepatnya di kelas 8B yang berada di pojok utara berhadapan
dengan Perpustakaan Sekolah. Segera ku duduk di meja kosong yang ada di kelas itu.
Anak-anak
memandangku asing dalam benakku ingin sekali aku kembali ke sekolahan
lamaku.Tak lama kemudian datanglah seorang wanita tinggi besar dengan rambut
terkurai menyambutku dengan ramah.
“Selamat
pagi anak-anak”. Sapa nya dengan ramah. Dia adalah Bu Siti salah satu guru yang
mengajar di kelasku.
“Pagi
Bu”. Jawab
anak-anak serentak. “Hari ini kalian
kedatangan teman baru”.
Ujarnya.
Bu
siti langsung memanggilku ke depan untuk memperkenalkan diri. Kuperkenalkan diriku panjang lebar
dan tanggapan
anak-anak yang begitu ramah membuatku lega.Ku akhiri perkenalan ku lalu ku
duduk kembali.Kebetulan aku duduk semeja dengan Vira teman yang baru aku kenal. Meskipun baru kenal aku sangat
dekat dengannya. Ayah ibu nya tidak jauh beda dengan orang tuaku. Orang tuaku
adalah seorang Buruh harian biasa.Tetapi itu tidak membuatku untuk tidak
berbakti kepadanya. Adakala nya aku berfikir aku harus jadi anak yang berhasil
dan membanggakan mereka,aku harus membalas jasa-jasa mereka yang telah
membesarkan ku hingga seperti ini.
Pelajaran
pertama pun di mulai.Ternyata aku lupa tidak membawa kotak pensil. Dengan agak malu aku meminjam
kepada teman semejaku.
“Aduhhh…, kok bisa lupa ya?Keluh ku.“Kenapa ??”. Ujar vira dengan agak judes
“Vir, aku lupa gak bawa bolpoint nih.” Kataku. “
Ah kamu ini sekolah yang di bawa apa sih? Ya udah pakai bolpointku aja nih!!!!”. Jawabnya sambil mengulurkan kan bolpoint nya
kepadaku. “ Hehehe iya-iya maaf sekali ini saja deh, aku
beneran lupa tadi memasukkan kotak pensil ke tasku”. Jawabku sambil tersenyum kecil.
Tiba –tiba perutku merasa mulas kupegangi
perutku. Hingga akhirnya Vira mengetahui aku
yang sedang melilit kesakitan. “Kamu kenapa Ra ?”.Tanyanya.
“
Emm.. nggak apa-apa kok Vir, kayaknya tadi aku
salah makan deh, perutku agak mules.” Jawabku
.“Bener nggak
apa-apa?”Tanya Vira dengan wajah yang agak cemas. Vira memang judes, cerewet dan penutup tetapi aslinya dia sangat baik
hanya saja dengan sifatnya itu teman-teman nya menganggapnya ia sombong
.“Bener Vir!!”. Jawabku.
“Oh.. iya kamar mandi dimana sih?”
“Ada di belakang Sekolah,nanti aku tunjukkan
setelah jam pelajaran ini selesai”. Ujar Vira.
****
Dino
anak salah satu murid paling usil di kelasku bahkan baru jam pelajaran pertama dia
sudah membuat ulah karena keusilannya. Dia melempar ular mainan ke salah satu
temanku nama nya Manda dengan kagetnya Manda menjerit dan naik di atas kursi.
“Apa-apaan ini kamu iseng banget sih Din, untung saja aku gak ada
penyakit jantung, kalo aku jantungan kamu tanggung jawab?”. Bentak Manda dengan
wajah kesal. Dengan rasa tak bersalahnya karena sudah membuat kegaduhan di
kelas saat pelajaran bu Siti,Dino tertawa.
“Hahaha ... syukurin
emang enak di kerjain ama ular mainan aja takut”. Ejek Dino. “Ihh kamu ini
nyebelin banget sih?”. Ujar Manda dengan
nada tinggi. Bu Siti pun langsung
mengambil tegas sikap Dino di hukumlah Dino berdiri di depan kelas dengan satu
kaki di angkat serta tangannya menjewer kedua telinganya.
“Saya kan Cuma bercanda Bu”. Ujar Dino.
“Kamu sudah sangat keterlaluan dengan ulahmu itu,tidak
seharusnya kamu bertingkah seperti itu di jam pelajaran ibu”. Ujar Bu Siti
sambil memegang spidol di tangannya. Dalam
benakku tersenyum, itu adalah hukuman yang pantas untuk orang yang usil seperti
Dino.Suasana kelaspun menjadi tenang kembali dan melanjutkan kegiatan belajar
mengajar yang tadi sempat tersendat karena ulah Dino.
Hari
demi hari ku lalui bersama teman-teman baruku, seiring dengan berjalannya waktu
aku mulai mengenal sifat dan karakter mereka masing-masing.Vira adalah sahabat yang terpercaya sekaligus
sahabat baikku. Vira yang cerewet dan judes itu sangat berbeda dengan karakter
Andin yang lucu dan feminim .Mereka berdua adalah friendship ku.Hari-hari ku
lalui bersama mereka di sekolah.
Pada
suatu ketika Bu Ani seorang Guru Sejarah memberikan tugas di kelasku, tentang
materi sejarah. “Anak-anak kalian harus mengumpulkan tugas rangkuman karena
materi nya cukup banyak ibu sarankan kalian dapat bekerja sama membentuk
kelompok,agar cepat selesai,kalian paham!!!”. Seru bu Ani sambil membawa
selembar kertas di tangannya.
“Paham
Bu”. Jawab anak-anak serentak.
“Tugas
rangkuman ini paling lambat di kumpulkan kapan Bu?”. Tanyaku.
“O..ya
Ibu hampir saja lupa,tugasnya paling
lambat di kumpulkanbesok ya anak-anak!!”.
Jawab bu Ani.
“Haaa….”. Dengan muka kesel Andin menjawab. “Kok besok Bu? Apa gak terlalu
cepet,itu kan materinya banyak!”.
“Tidak Andin kalian kan
berkelompok ,kalian bisa bekerja sama membagi tugas.” Jawab bu Ani.
“Tapii bu… kalo gak
selesai gimana?”. Jawabku.
“Itu terserah kalian,kalian mau nilai apa tidak? Ibu harap kalian dapat
mengumpulkan tepat waktu”.Ujar bu Ani
.***
Bel
pun berbunyi menandakan jam istirahat tiba,seperti biasa aku dan teman-temanku
menuju ke kantin. Aku, Andin dan Vira bagaikan badan dan baju kita kemana-mana selalu bersama.
”Gimana kita membagi tugasnya nya?”. Tanyaku. “Tugas
apa ?”. Sahut Andin dengan muka yang kebingungan.
“Ya ampun masa lupa padahal baru di umumkan”. Jawab Andin. “Oalah…
tugas
dari
bu Ani tadi toh?”.
Jawabnya dengan muka tersenyum. “Iya Andin cantik,lemot amat sih mikirnya!!!!”. Jawabku sambil meledek. “Emang
gue cantik dari lahir,kata mama sih gue mirip Prilly Latuconsina .”Ujarnya sambil
tertawa.
“Idih
PD banget lo!!” jawabku”.
Kalian
ini malah ngerumpi”. Sahut Vira.
Diantara
kami bertiga memang Vira yang paling rajin dan
cermelang otaknya. Dia selalu
mendapatkan peringkat 10 besar di kelas dengan sifatnya yang agak judes itu. “Mending
sekarang kalian pesen makanan deh ,keburu masuk nih”. Ujar Vira.
“Males ah, antri tauk!!Nanti aja.” Jawabku.
“Udah biar aku aja yang pesen “.
sahut Andin. “
Sip dari tadi donk, kamu memang teman yang selalu bisa kita andalkan ndin”. Jawabku sambil tertawa kecil. Tidak lama kemudian Andin pun tiba dengan membawa makanan,
seperti biasa kami memesan gorengan,soto
dan tak lupa segelas es teh manis. Dengan asyik kami menikmati makanan itu
tiba-tiba Dino datang. Dengan
membawa sebuah kotak kardus kecil “Brukkk”. Suara Dino ketika duduk di kursi.
“Pelan-pelan donk itu kursi bukan besi,ntar roboh lagi kamu duduk di
situ,kamu kan gendut”.
Ujar
Vira sambil meminum es yang ada di depannya. “Hay teman-teman aku ikut gabung ya?”. Sahut Dino.
“Tumben
banget kamu ikut gabung kita Din? Tanyaku
dengan penuh curiga. Tak di
hiraukan pertanyaan ku dino langsung memesan 2 mangkok soto.
“Itu
perut apa karung sih?Banyak banget makannya.” Ujar Andin. “Pantes aja kamu gendut din
makannya banyakbanget sih “ jawabku.
“Kalian ini berisik,bilang aja kalian iri aku punya badan yang gemuk ,ganggu
orang makan aja deh”. Ujar
Dino
sambil memakan soto yang tlah di pesannya. “Eh
itu kotak apa din?”.
Tanya Andin.
“ Ohh..
ini jam tangan yang baru aku beli tadi
ndin”. Jawab Dino.
“Lihat jam nya donk Din”. Sahut Vira dengan rasa penasarannya. Belum sampai Vira
melihat jam tersebut. Tiba-tiba bel
masuk pun berbunyi. “Kringggg kringggg” menandakan jam istirahat telah berakhir
anak –anak pun pergi meninggalkan kantin dan menuju ke kelasnya. Begitupun aku dan teman-teman.
****
Jam
mulai menunjukkan pukul 13.30 teriknya
matahari mulai terasa mencengkram, mataku mulai menciut suasana pengap pun
mulai terasa yang membuatku semakin bosan akan pelajaran siang hari ini. Selang waktu kemudian bel pulang pun berbunyi
menandakan bahwa pelajaran hari ini telah berakhir.“Krringggggg” terdengar
nyaring di sudut-sudut kelas.”Yeeeee” suara anak-anak serentak ,dengan
gembiranya suara menggelegar mereka memenuhi telingaku. Dengan cepat ku keluar
dari kelas bersama Vira dan Andin
ternyata kakakku telah menunggu berdiri di depan kelas. Ku pikir dia akan
mengajakku pulang bareng,melainkan hanyalah titip pesan kepada Ayah dan
Ibu,bahwa dia akan mengikuti belajar kelompok pada siang hari ini. “Ehh..kak Nadia,udah lama
kak?”Sahutku.
“ Baru aja sih dek, oh.. iya hari ini kakak ada kerja kelompok kamu
pulang duluan aja ya! Sekalian bilangin ama ayah dan mamah,kalau hari ini kakak
pulang sore”.Ujar kak Nadia. “
Jadi aku pulang sendiri donk kak?”
ujarku dengan wajah manyun. “Kamu
pulang bereng kita aja ra, kebetulan kita kan searah?”Ujar Vira. “Emm..iya
udah deh,aku pulang dengan kalian.”Jawabku.
Di
jalan kita saling berseda gurau mencerikan pengalaman masing-masing. Semakin lama aku semakin merasakan
pentingnya mereka dalam hidupku.
Mereka
adalah sahabat-sahabat yang paling aku banggakan. Matahari semakin
meninggi,panasnya semakin menyengat. Kupercepat langkahku setapak demi setapak
dan akhirnya sampailah aku di ujung sebuah Desa tempat tinggalku.
Akhirnya
setelah beberapa tahun aku pindah di sini kak Nadia menjalankan Ujian Nasional. Dengan giat dan tekun kak nadia
belajar demi kelulusannya agar mendapat sekolah yang di impikannya. Sedangkan aku hanya menghabiskan
waktu liburanku hanya di Rumah. Suatau
pagi aku terbangun dari tidurku.
Sayup-sayup
terpaan angin menyambar jendela.
Segera
ku bangkit dari ranjangku dan kubuka sebuah jendela di kamarku.Sebuah pegunungan
yang terbalut awan putih nampak
jelas terlihat di sudut jendelaku. Dengan suara burung yang
menari-nari menggiringi
sang surya yang mulai merekah. Tiba –tiba terdengar nyaring suara pintu kamarku
di ketuk.
“Tok..tokk..tokk” .”Ara bangun nak,sudah pagi !” teriakan mama dengan lembut sebagai ciri khasnya.
“Iya
mah.. sebentar !!” .sahutku. Segera ku
melangkah menuju pintu kamar. Ku buka dan terlihat sebuah senyuman manis
menyambutku .
“Hari
ini Ara libur mah!!” ujarku.
“Iya
mamah sudah tau dari kakakmu tadi pagi.
Sekarang
kamu mandi buruan mandi gih, habis itu sarapan. Mamah sudah siapkan sarapan
pagi hari ini.”Sahut ibu sambil memegangi sapu di tangan kanan nya. Aku sangat
beruntung memiliki sebuah keluarga yang begitu penyayang meskipun kami hidup
pas-pasan. Kami
selalu bersyukur atas nikmat yang telah di berikan-Nya. Beberapa
hari kemudian rasa bosan pun menghampiriku. Biasanya hari-hari kulalui di
Sekolah tetapi kini hanyalah sendirian di telan sepi di Rumah. Segeraku langkahkan kakiku menuju
ruang tamu dan ku rebahkan diri di atas sofa yang ada di ruangan itu. Sambil
asyik ku mainkan handphone yang ada di genggamanku.“Kringggg” dengan nada keras
tiba-tiba Hp
ku berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.
Segera
ku buka dan kubaca sebuah pesan itu dari tulisan pertama hingga terakhir.
Vira
24-08-2016
08:30
Sorry ra ganggu waktu mu, kamu ada
waktu nggak hari ini ?aku boring nih di rumah terus. Ke rumah Andin yuk ?aku ada perlu nih sama dia.aku mau mengambil
buku novel yang kemarin dia pinjam.
Segera
ku iyakan ajakan vira untuk datang kerumah Andin. Dari
pada di rumah nggak ngapa-ngapain mending keluar cari hiburan. Pikirku.Selang beberapa hari
kemudian masa liburanku pun berlalu, seperti biasa ku awali pagiku dengan
berangkat sekolah. Bertemu
dengan teman-teman. Tetapi ada yang aneh dengan hari pertama masuk ini jam
sudah menunjukkan pukul 07:02 tetapi tak ada satu anak pun yang berada di
kelas. Seperti Ruang kelas tak
berpenghuni kosong dan sunyi terasa
dingin berada di kelas ini. Ku langkahkan
beberapa langkah mendekat dan akhirnya masuk di kelas itu.“ Hallo”. Sapaku
dengan nada keras. “Apa aku salah masuk kelas ya ?”. Pikirku. “Hallo,sepada ada orang di situ ?” teriakku. Tetapi tak ada
respon sama sekali. Dan segera ku balikkan badan menuju keluar kelas. Tiba-tiba
“ Surprice”. Suara teman-teman dengan serentak. Dengan
kagetnya bercampur haru, aku tersenyum. Teman- teman telah menyiapkan sebuah kejutan
untukku, salah satunya adalah Vira dan Andin,.Aku tahu ini semua adalah mereka
berdua yang merencanakan.
“
HBD.. Ara temanku yang paling bawell”. UjarVira
dengan membawa sepotong kue ulang tahun untukku.
“Astaga aku lupa deh, kalo hari ini adalah ultahku. Tapi makasih banyak
ya teman-teman semuanya. ” Jawabku dengan suara yang lantang.
“Ya ampun masa hari jadi sendiri lupa sih.Tapi nggak apa-apa untung saja
sahabat-sahabat mu ini nggak lupa.hehehe. “Eh..
tiup dulu donk lilinnya, keburu habis nih, tapi jangan lupa doa dulu ya.”ujar
Andin. “Siap bosss!!” jawabku. Segeraku pejamkan mata lalu berdoa
selang beberapa waktu kemudian ku buka mata lalu meniup semua lilin yang berada
di atas kue itu.
“Cieee
yang bertambah tua.”ujar Andin sambil tertawa meledekku. “ Oh.. iya makan-makannya di tunggu lho Ra !! jangan lupa ya.” Sahut Vira yang
ikut-ikutan menggodaku.
Teman-teman
satu persatu mengucapkan selamat kepada
ku.Tapi ada satu yang mengganjal.
“
Eh teman-teman Dino kemana ?dari nggak kelihatan batang hidungnya tuh anak.?”Ucapku sambil memegangi kue. “Nggak
tau deh, udah dari tadi dia nggak kelihatan.” Sahut Andin kepadaku.
Selang
beberapa waktu kemudian jam istirahat pertama tiba. Suara anak-anak kelas 3 yang
mengelegar kegiarangan ketika melihat sebuah pengumuman hasil Ujuan Nasional
mereka. “Aku lulusss”. Teriak salah satu diantara mereka
ketika melihat papan pengumuman itu.
Dengan
rasa penasaran aku mendekati papan pengumuman itu.Tiba-tiba tak di sangka kak
Nadia sudah berada tepat di depanku. “Gimana hasil UN
Kakak?” tanyaku. “Alhamdulilah
kakak lulus dek, kakak seneng banget
akhirnya kakak bisa di terima di sekolah impian kakak.” Ujar kak Nadia
dengan girang. Sebuah perpisahan kelas 3 pun di adakan selama beberapa waktu.
Singkat
cerita, beberapa tahun kemudian aku mengikuti jejak kakaku,aku lulusan dan aku
berfikir untuk melanjutkan ke SMK. Aku mendaftar di SMK Nusa Bangsa 1 bersama sahabat
ku Vira. Dengan melampaui sebuah test dan ujian hingga tiba saatnyaa aku dan
Vira di terima. Aku
lebih tertarik dengan travelling dan
akhirnya aku masuk SMK ini mengambil
serta mendalami jurusan Wisata,
sahabatku Vira juga ikut mengambil
bidang keahlian yang sama. Tak lama kemuadian tepatnya 3 hari setelah pendaftaran
diadakan lah sebuah Masa
Orientasi Sekolah (MOS). Nah di situ aku
dan Vira belajar mengenal teman-teman baru,lingkungan serta meninggalkan
kebiasaan-kebiasaan lama di SMP.
“Aduhhh
capek nih..!!!” ujarku dengan nafas tak beraturan. Ku berhenti sejenak untuk
memulihkan hembusan nafas yang sesak.
“ Lho kok berhenti ayo lari lagi,
kita kan lagi hukum gara –gara kamu terlambat MOS hari ini.” Sahut Vira. “
Gak kan ketahuan kita berhenti,kita duduk aja ya, lagian kakak senior juga gak ngeliat
kita kan.” Jawabku dengan santai.
“Tapi ntar kalo ketahuan tambah berat kita di
hukumnya gimana,kita masih 2 putaran lagi mengelilingi lapangan ini?” ujar Vira
saat berdiri sampingku. “ Nggak akan,tenang aja tempat ini kan ramai. Pasti
mereka juga nggak akan mengenali kita. Jawabku sambil meminum minuman sekaleng
sprit.“ Aduh ara kebiasaan deh selalu mengaggap enteng setiap masalah.” Teriak
Vira dengan agak kesel kepada ku. “
husstt.. jangan kenceng-kenceng Vir, nanti ketahuan,kamu gimana sih?” ujarku
sambil menarik baju nya.“ Iya-iya maaf deh, tapi ntar kalo ketahuan aku gak
ikut-ikutan lho.!!” Ucap Vira dengan ketus.“Ahhh… bawel banget sih?” ujarku
sambil menarik tangannya untuk duduk sejajar dengan ku. Beberapa menit kemudian
minuman yang ada di genggamanku pun habis tanpa ku pikir panjang segera ku
lempar botol itu ke belakangku , pikirku tempat sampah berada tepat pada
sasaran.
****
“Brugggggg”
terdengar suara benturan benda menghantam sesuatu.“Aduhhhhh. Sialan apes banget
sih gue hari ini. “Woww siapa yang berani nglempar kaleng ini ke muka gue.”
teriaknya keras dengan tatapan yang tajam.Dengan kaget nya aku baru menyadari
yang barusan melempar kaleng itu adalah aku. Dengan agak panik,aku menganggap
bahwa semua baik-baik saja. cowok yang marah-marah
tadi selangkah demi selangkah mendekati ku. Nampak nya dia mulai curiga bahwa
akulah pelakunya. “Gimana nih Vir ?bisa habis aku di lalap ama
cowo galak itu.” Jawabku dengan panik. “hahahahah syukurin ra, itu nama nya
karma. Habis tadi di bilangin ngeyel sih.”Ucap Vira sambil meledekku. Tibalah cowok itu di hadapanku dengan muka
merah padam ia menegurku sambil membawa kaleng yang tadi mengenai kepalanya.“Siapa
yang berani melakukan ini,ayo ngaku.!!” Ujarnya dengan nada tinggi. “Bu
..bu.. bukan kita kak pelakunya.” Jawabku dengan agak cangung.
“Kak??Sejak
kapan lo jadi adek gue?? Dasar
anak baru”.
Jawabnya dengan judes.
“Teruss
maunya di panggil apa? Eemm.. tante aja
kali ya ? lebih cocok ama orangnya yang galak kayak tante-tante.” Ledekku
sambil tertawa.
“
Apa lo bilang????? Siapa lo berani banget ngomong gitu ama gue. Lo gak tau
siapa gue ??”. “Udah-udah !! Mending
kamu ngalah aja Ra ama ini orang”. Sahut Vira yang mencoba melerai perdebatanku
dengan cowok sombong ini.
“Whaatt..ngalah
gak ada ya dalam sejarahku yang nama nya ngalah apalagi ama cowok sombong ini.” Ujarku dengan kesal.
“Emang dasar nih cewek, udah salah gak mau ngaku pakai nyolot lagi.”Ujar
cowok itu dengan kesal.
“Udahhhh !!!! gini
aja deh, ok ..kita minta maaf soal keleng tadi. Sebenarnya itu temen aku gak sengaja
kak,mungkin dia gak ngliat kalo kakak ada di situ”. Ujar Vira dengan tegas.
“ Bilangin ama temenmu
suruh dia beli kaca mata kuda, masa orang segede ini gak di liat.” Ujar nya
dengan tegas.
“Apa
kamu bilang?” jawabku. Tiba –tiba Vira menarikku pergi menjauh dari hadapan cowok itu. “Apa sih Vir?Ujarku dengan kesal.
“ Kamu ngapain sih pakai acara debat segala ama orang tadi, gak kan ada habisnya tau nggak debat kayak gitu”. Sahut Vira sambil mencoba
menenangkanku. “Habis cowok itu yang nyolot duluan tadi
kamu liat sendiri kan,gimana sikapnya.” Ujarku dengan kesal.
“ Iya juga sih, tapi ya udah lah. Gak usah di pikirkan.” Jawab Vira.
***
Beberapa
minggu kemudian, aku mulai terbiasa dengan lingkungan sekolah itu. Suatu ketika aku masuk kelas dengan
pelajaran pertama aku duduk semeja dengan Vira sahabat kentalku. Dan dibelakangku terdapat teman baru, yang baru aku kenal satu
minggu yang lalu. Dia bernama Sri pindahan dari Solo. Orangnya asyik tapi
kadang –kadang aku nggak nyambung dengan bahasanya yang menggunakan Bahasa Jawa
medok..
“Ehh Vir, kamu tau Sri nggak?” Tanya Vira kepada ku. “Sriii,
yang ada di belakang kita ini maksud kamu??” jawabku.
“Iyaa..siapa lagi sri, kalo bukan dia.” Ujar Vira. “
Emang Kenapa sih?” Sahutku sambil mengorek-orek kertas di depanku.“Kalau di
pikir-pikir wajahnya mirip Andin ya temen SMP kita dulu?”. “Ah
masa sih??Beda taukk??” jawabku. Sesekali ku menoleh kebelakang dan
mengamati wajah Sri tetapi bener juga
kata Vira wajah Sri memang sekilas mirip dengn Andin. Tanpa di sadari Sri pun mengetahui
apa yang sedang aku lakukan. “Ono
opo to mbak??ada yang salah ya sama wajahku kok sampai segitunya melihatnya?”. Ujar
Sri.
“Ohh..enggak
kok Sri, sekilas kamu mirip ama teman
kita dulu pas di SMP. Sahutku. “Ohh..iya Sri kamu
lagi nulis apa sih ?” ujar Vira dengan penuh rasa penasaran. “Lho
mbak Vira gak tau tho?Hari inikan ada ulangan Matematika.” Jawab Sri
sambil menghafalkan rumus-rumus Matematika.
“Haduhh..kok
bisa lupa sih Sri kalo hari ini ulangan,aku paling meles tentang rumus-rumus kayak gini.” Ujarku dengan lesuh.
Tiba-Tiba ada seorang salah satu siswa mengabarkan bahwa hari ini ulangan
Matematika di cancel. Senangnya hatiku bukan main. Alhamdulilah hari ini tak bertemu
dengan rumus-rumus Matematika yang menjenkelkan itu.
***
Suatu ketika jam pelajaran pun telah usai
“Kringggggggg” suara bel pulang berbunyi. Tak seperti biasanya. Kali ini aku
pulang sendirian karna Vira pulang di jemput oleh kakaknya. Panasnya sang surya
tertutup oleh awan hitam yang di sertai
dengan sambaran petir yang bergemuruh. Menandakan sebentar lagi akan turun
hujan. Sambil menunggu sebuah
taransportasi umum aku duduk di sebuah Taman. Tak di sengaja aku melihat
seorang cowok yang wajah nya tak begitu asing dengan ramah dan sabar cowok itu membantu
mengajari
anak-anak jalanan membaca. Ku perhatikan dari
tempat dudukku. Akhirnya kusadari cowok itu adalah orang yang pernah berdebat dengan ku waktu
awal-awal aku masuk sekolah. Yah aku
ingat dia adalah kakak kelasku yang sombong, tapi kenyataannya dia adalah
seorang cowo yang dermawan dan baik . Beberapa jam kemudian aku tak kunjung
mendapatkan sebuah bis. Dengan resah ku menunggu di pinggiran jalan. Sebuah
genangan air di jalan yang tiba-tiba
terjang oleh sebuah motor. Dan akhirnya genangan air itu pun muncrat dan membasahi sebagian baju ku. “Aduhh… kira-kira
donk kalo jalan di sini ada orangnya wow.”teriakku dengan keras. Orang itu tetap malaju tanpa
menghiraukan teriakanku.
“yah.. .main pergi gitu aja. Tuh orang gak
liat apa di sini ada orangnya main terjang aja deh tuh air jadi basah semua kan
jadinya. “ Ujarku dengan kesal.
****
Keesokan
harinya saat aku keluar main ke ruang kelas 26 tak di sengaja aku melihat cowok
yang kemaren entah kenapa saat aku
melihat nya rasanya ada yang berbeda.
Sedikit demi sedikit ku mencari tahu tentang dirinya.S uatu ketika aku dan Vira pergi ke
kantin.
“Ehh..kak Rehan Ke kantin juga
ya? “ sahut Vira sambil menyapa cowok
itu. “Iya,Vir
ke sini sama siapa?” Tanya nya.
“ Aku sama temenku kak, kalo kakak sendiri ?”.
“ Aku sama temen-temen
juga sambil ngerjain tugas klompok di sini.” Sahutnya. Agak jelous aku melihat
keakraban mereka berdua. “Ehemmmt..ngobrolin
apa sih kelihatannya serius banget?” tanyaku dengan muka datar. “Kamu
bukannya yang dulu itu iya?” tanyaku dengan basa-basi hanya untuk sekedar mencari tau tentang dirinya. “
Kamu yang marah-marah waktu MOS itu kan ?” tanyanya dengan tatapannya yang
tajam mengingatkan ku akan waktu pertama kali bertemu dulu. “
Ohh..
iya kenalin aku Rehan lebih tepatnya Rehan Pratama aku anak kelas 11 MM 2”. Sambil megulurkan tangannya untuk berjabat
tangan denganku. Deg-deg an rasa nya hati ini saat dekat dengannya. ”
Emm..aku Ara anak kelas X 12. Soal yang
dulu aku minta maaf ya?”ujarku.
“ Ohh.. udah gak usah di bahas, lagian itukan udah lama, aku juga sudah lupa.hhehee.” jawabnya sambil
tertawa.” Cowo ini manis juga, kalo lagi
tertawa gini”. Pikirku
dalam hati sambil tersenyum.
****
Sejak
perkenalan itu aku dan kak Rehan semakin dekat. Begitupun Vira kami bertiga
semakin kompak dan saling terbuka satu sama lain tidak ada yang di tutup-tutupi
diantara kita bertiga. “Kak,
aku boleh minta nomer nggak?” kata Vira“.
“Nomer
apa Vir, nomer togel ya?”. Jawabnya
sambil meledek.
“Sekalian
aja nomer sepatu. Nomer HP lah kak,gimana sih?” jawabnya sambil tertawa. Selang
beberapa menit mereka bertukar nomer HP,Beberapa tahun kemudian UKK pun tiba
dan genap setahun aku mengenal kak Rehan.
Ketika hari Minggu Vira dan Kak Rehan main bareng di Sebuah Taman .tak
lupa Vira mengajakku. Takut aku
mengganggu mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu. “Ohh..iya
Vir. Aku pergi bentar ya,cari minum. Kamu di sini aja ama kak Rehan.”Ujarku. “Cari
minum di mana Ra?Aku
temenin ya??” sahut kak Rehan.
“Ah,
gak usah kak, aku bisa sendiri kok.” “Yakin gak mau di temenin.” “Beneran
kak,kakak di sini aja.”
“ Jangan lama-lama ya Ra.” Ujar Vira.
“Ok”. Jawabku. Akhirnya
dengan berat hati aku meninggalkan mereka berdua.
Dalam
benakku menangis, melihat orang yang aku
kasihi berduaan dengan sahabatku sendiri. Bahkan aku mengetahui kalau Vira juga
menyukai kak Rehan. Akankah aku harus mengalah demi kebahagiaan sahabatku. Rasa
nya hanyalah mimpi aku bisa bersama kak Rehan.Aku gak bisa berkata-kata lagi ku
tuangkan semua amarahku di sebuah buku kecil
diary.
****
Beberapa
waktu kemudian Vira dan kak Rehan telah banyak ngobrol panjang lebar. Hingga akhirnya kak Rehan
menanyakan tentang Ara.
“Emm
Ara mana ya? Lama banget.”
“Iya..ya
kak, tumben banget dia pergi lama kayak gini.”
“Minta
nomer HP nya Ara donk”. Ujar kak Rehan.
“Oh,,
iya boleh, bentar ya kak”.
Sambil
mencari nomer Ara di kontak ponselnya. “
Okey !! ohh.. ya ngomong-ngomong Ara udah punya pacar belum sih?”
“Lho, emang kenapa kak ?”
“Enggak cuma pengen tau aja kok”. “Tau
deh, Tanya aja ama orang nya sendiri”. Jawab Vira dengan Cetus.
Ketika
Ara berjalan Menyelusuri tikungan –tikungan jalan yang ada di jalan itu
tiba-tiba Hp nya berbunyi.“Krringg”sebanyak
tiga kali. Yang menandakan sebuah pesan baru untukknya.Bergegas segera di
bukaknya pesan itu.
+6285702128062
25-08-2016
16.35
Ra
kamu dimana ?katanya Cuma beli minuman kok lama banget? Buruan kembali ke tempat
tadi.
Rehan
“Dari mana kak Rehan dapat nomerku”Pikirku .Tak ku hiraukan segera
ku bergegas kembali ke tempat yang tadi. Aku gak boleh terlihat sedih di depan
mereka. Karena kebahagiaan sahabat juga
kebahagiaan ku juga . Beberapa menit kemudian aku sampai di tempat
mereka.
“Hay,,
sorry ya lama”.Ujarku.
“Kamu kemana aja sih Ra? Kita cemas lho nungguin
kamu.”Ucap Vira. “Hehehe,
iya-iya maaf ya udah bikin kalian panik.”
“Iya gak apa-apa, tapi
lain kali gak boleh kayak gitu lagi”. Ujar kak Rehan. “Siapppp”.Ucapku
sambil tersenyum.
Matahari
mulai menyurut langit pun mulai terasa gelap akhirnya
kami bertiga pun pulang. “
aku antar ya ra?” ujar kak Rehan “gak usah kak, aku ama vira aja”. Jawabku sambil membenahi sepatuku. “Oke deh kalo gitu.” Kalian hati-hati
ya.”Ujar kak Rehan. Tiga
puluh menit kemudian aku sampai di rumah Vira. Karena
hari udah mulai petang,akhirnya aku segera berpamitan untuk pulang. “Vir
aku langsung pulang aja ya.”Jawabku sambil berpamitan.
“Lho,
kok buru-buru. Nanti
aja.Aku mau cerita soal
tadi.”Sahut Vira dengah wajah yang kegirangan.“Ouh.. ya udah deh.,gimana tadi sama kak Rehan?”tanyaku dengan penasaran . “Kamu udah jadian ya ama kak Rehan.?”
“Ha
ha ha, boro-boro jadian di tembak aja belum. Padahal aku berharap banget hari
ini aku udah jadian ama kak Rehan.” “
He
he sabar ya ! kalo jodoh gak kemana kok. Oh iya di sambung besok lagi ya. Udah
melem nih” . Jawabku dengan agak males. “Ya udah hati-hati di jalan ya Ra.”
“Okeeyy”
“Lho
ini kan tas nya Ara, pasti ini ketinggalan. Dasar tuh anak emang pelupa.Ujar
Vira sambil menaruh tas ku di atas meja.
Tiba-tiba
terjatuhlah sebuah buku diary kecil, “Lho apa ini, jangan –jangan ini
punya Ara.” Kemudian
di lihatlah buku diary ku olehnya, akhirnya Vira pun mengetahui tentang apa
yang aku rasa selama ini kepada kak Rehan”.
Esok harinya aku sengaja berangkat pagi kesekolah untuk mengurusi
madding . Namun ketika aku masuk dikelas banyak balon dan
bunga mawar. Aku bingung siapa yang ulang tahun hari ini. Pikirku. Secara tiba-tiba kak Rehan pun
datang dari luar dan membawa setangkai mawar merah.
“Kak Rehan ? ini semua kakak yang buat”.Ujarku
dengan kaget. “Iya.Ra.
Sengaja ini aku buat untuk kamu.”Sahut kak Rehan sambil berdiri di dekatku. “Maksudnya
kak???” ucapku.
“ Aku mau
kamu jadi pacar aku Ra, aku merasa nyaman banget dekat ama kamu.
Terimalah mawar merah ini ya Ra,pleasee??”.
“Maaf kak aku gak bisa”.
“Kenapa Ra??”.
“Aku gak mau menyakiti sahabatku Vira
kak, selama ini Vira juga suka sama kakak. Gimana jadinya kalau dia tau kita
jadian. Aku
harap kakak bisa mengerti. Dan
menghargai keputusan
aku sekarang.” Ujarku
“Okeyy, aku terima semua keputusan kamu Ra . Emang lebih baik kita bersahabat.” Ucap kak Rehan. Tak lama kemudian Vira pun tiba
Sekolah, sikapnya agak beda kepadaku, dingin seperti es. Entah karna apa, dan
akhirnya aku bertanya.
“Kamu kenapa Vir? Tanyaku.
“Gak papa kok, udah ah aku males punya sahabat kayak kamu, hobby nya
nusuk temen sendiri dari belakang , sahabat macam apa kamu?”ujar nya dengan
marah.
“Maksud kamu apa Vir?Soal
kak Rehan?”.
“Aduhhh Vira, jujur ya aku memang
suka ama kak Rehan tapi aku lebih milih kamu sebagai sahabatku. Aku gak mau
persahabatan
kita yang telah kita bina selama 4 tahun hancur
cuma
gara-gara cowok. Aku agak mau itu terjadi Vir. Ujarku
sambil memegang tangan Vira. “Benarkah seperti itu? Aku minta maaf
ya Ra, maafin aku yang udah
egois.
Aku juga gak mau persabatan kita hancur cuma gara-gara 1 cowok.”
“Sahabat selalu ada disaat kita
membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita
bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”kebersamaan terwujud karena sebuah
persahabatan Merangkul ,perpelukan dan bergandeng tanganUntuk mewujudkan sebuah
keakrabanSemua hadir karena sebuah Cinta karena Cinta, kita akan
selalu bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar